Dalam salah satu tulisannya disebuah harian ibukota,cendikiawan ITB,Dr.sudjoko pernah menyampaikan kprihatinannya ttg btapa mudahnya kita memakai bhsa asing yg langsung diserap ke bhs Indonesia.kprihatinan yg sama jg pnh dlntrkan oleh pnulis Mudji sutrisno Sj. fenomena ini rupanya telah menjadi keprihatinan bersama terutama bagi mereka yg berkutat dlm dunia bhs. Fenomena ikut-ikutan ini dsbut sebagai SNOBISME bhs. Ironisnya,hal ini justru mewabah di masyarakat,terutama media massa dan kaum muda,krn ingin diiangga keren n ktinggalan zaman. Hasilnya,bnyk terjadi salah kaprah dlm berbahasa. Tahu menggunakan tapi tidak tahu maknanya. Muji mengakui hal ini sbgai dampak kemalasan menemukan padanan bhs asing dalam bhs Indonesia.. Disadari atau tidak,bnyk terjadi salah kaprah dlm kekristenan. Ada yg beranggapan bhwa menjadi kristen berarti menggunakan kalung salib,menenteng Alkitab ke mana-mana,memakai baju bertlskan 'luv Jesus',dan memasang aksesoris rohani dkndaraannya. Sementara yang lain mengidentikkan dirinya kristen saat namanya tercntum sbg anggota sebuah Gereja,terlibat pelayanan,dan tahu bnyk ttg Alkitab. Hal itu tdk spenuhnya benar. Kisah para Rasul menjelaskan, sebutan kristen dbrikan kepada mereka yg hidup berpadanan dgn teladan Tuhan Yesus (Kis 11:26). Orang Kristen adalah orang yg memiliki hubungan pribdi yg dekat dgn Tuhan. Hal Tersebut hanya dpt dlakukan oleh mereka yg telah menerima Yesus sbg Juruselamatnya secara pribadi (Yoh 14:6). Setiap orang berhak untk menyebut dirinya Kristen,tapi Tuhan Yesus menyatakan bhwa hal itu dapat dilihat dari
Buah kehidupannya (Luk 6:44-45).
Seperti halnya kelatahan dalam berbhsa,kelatahan Rohani pun tidak akan membrikan kontribusi positif bagi diri sendri dan orang lain. Saat ini,bgaimana dgn khdupan kita sndri? Sudahkah kita menjadi seorang Kristen Sejati,bukan Kristen latah krn skdar melakukan apa yg dlkukan org lain??^^
Mari kita mengoreksi kembali diri kita..
Sumber: (Jesus,Renungan harian n Githa ^^)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar